”Kerauhan”, Sebut Pelaku Pengeboman

October 8th, 2005

ADA kejadian aneh mengiringi duka peledakan bom di Jimbaran, Kuta Selatan. Minggu (2/10) kemarin, seorang ibu rumah tangga asal Sudaji Buleleng, Kadek Suastari, tiba-tiba kerauhan (trance). Wanita berusia 32 tahun ini kemasukan roh Patih Gajah Mada. Percaya atau tidak, dalam kondisi kerauhan itu, dia menyebut pelaku bom secara lengkap. Nama, alamat tempat mereka menginap serta mobil yang mereka gunakan lengkap dengan nomor polisi serta jenis dan warnanya.

Kejadian bermula dari keluarga Putu Surya, suami Kadek Suastari, bersama anak mereka, Intan (6) dan Agus (5), siang kemarin sembahyang di Pura Majapahit di kawasan GWK. Keluarga yang tinggal di Puri Gading Jimbaran ini didampingi pemangku di merajan keluarga di Buleleng bernama Ketut Negara. Setelah sembahyang, Suastari tiba-tiba kerauhan. Roh yang masuk ke tubuhnya diidentifikasi sebagai Patih Gajah Mada. Ketika Putu Surya hendak pulang ke rumahnya, Suastari berontak ingin meloncat dari mobil kalau tidak diperkenankan melihat TKP. “Dia terus berontak saat kerauhan, dan mengaku sebagai Patih Gajah Mada. Dia minta diantarkan ke lokasi pengeboman (Pantai Jimbaran-red),” tutur Ketut Negara.

Pada saat bersamaan, dalam kondisi hilang kesadaran, Suastari menyebut nama pelaku bom di Nyoman Cafe dan Manega Cafe, Pantai Jimbaran. Katanya, pelaku berjumlah tiga orang, masing-masin Dedy Miswar, Abdul Gani dan Abdullah. Ketiganya sempat menginap di Jalan Anggrek 32, Kuta. Dalam melaksanakan aksinya, ketiga bedebah itu menggunakan mobil Kijang warna biru dengan nopol DK 1910 DW. Karena terus bersikeras diantar ke TKP dan menganggapnya sebagai suatu “petunjuk”, Putu Surya lantas mengantar istrinya ke TKP pukul 15.45 wita. Setelah dijelaskan, aparat keamanan mempersilakan Suastari, suami dan kedua anaknya masuk TKP. Padahal sebelumnya tak seorang pun, selain petugas kepolisian diizinkan masuk ke area yang telah dipasangi police line.

Di pantai dekat TKP, di hadapan para petugas, beberapa kali Suastari kerauhan. Lagi-lagi dia menyebut identitas para pelaku pengeboman berikut keterangan tambahan lainnya dengan jelas. Setelah itu, Suastari langsung lunglai seperti orang pingsan. Tak pelak, hal ini menjadi tontonan, termasuk oleh puluhan wartawan baik dalam maupun luar negeri.

Beberapa wartawan asing dan yang berasal dari luar Bali tampak terpesona menyaksikan fenomena niskala ini. Setelah dijelaskan, baru mereka memahami berbagai kekuatan spiritual yang menjaga Bali. Sekadar mengingatkan, dalam mengungkap pelaku peledakan bom di Kuta 12 Oktober 2002, aparat keamanan banyak dibantu oleh kalangan paranormal.

Yang menarik, saat kerauhan, Suastari sempat sedikit bernyanyi saat mengungkap dirinya sebagai “Patih Gajah Mada”. Sambil menunjuk orang di sekeliling yang mengerubutinya, Suastari mengatakan, kalian sudah tak pernah lagi sembahyang untuk Gajah Mada dan kerajaan Majapahit. Sesudah itu keluar ucapan yang tidak terlalu jelas. Beberapa orang di situ mengaku tak pernah mendengar ucapan seperti itu sehari-hari. Apakah itu bahasa Sanskerta atau Bali Kuno, entahlah. Yang jelas, apa yang dikemukakan Suastari dalam kerauhan merupakan isyarat bagi polisi. Apakah informasi yang disampaikan Suastari ini benar adanya, mari kita serahkan pada sang waktu. Toh, polisi kini tengah bekerja keras mengungkap pelaku pengeboman yang lagi-lagi merenggut korban jiwa.

Entry Filed under: Bali News

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calendar

May 2012
M T W T F S S
« Aug    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Most Recent Posts